Selamat Datang Di Atsauri's Blog NURUL 'ILMI fakultas pertanian universitas sumatera utara

25 April 2013

PENGARUH SUHU UDARA TERHADAP PERTUMBUHAN KEDELAI




PENGARUH SUHU UDARA TERHADAP PERTUMBUHAN KEDELAI

            Menurut  Beatrik ( 2002 ) di dalam skripsinya menyatakan bahwa suhu udara yang dikehenadaki tanaman kedelai adalah antara 21-340 C. Akan tetapi  suhu yang optimum bagi pertumbuhan tanaman kedelai adalah 23-27 derajad celcius.Pada proses perkecambahan benih kedelai memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 derajad celcius.Saat panen, kedelai yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik dari pada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil. Berdasarkan isi skripsi tersebut dapat disimpulakn bahwa tanaman kedelai tidak menghendaki suhu udara yang terlalu tinggi dan suhu udara yang terlalu rendah. Karena suhu udara yang terlalu tinggi dan terlalalu rendah akan dapat memperhambat pertumbuhan tanaman kedelai dan dapat menyebabkan kematian.
            Menurut Arifin ( 2008) suhu udara berpengaruh terhadap kecepatan metabolisme terutama fotosintesis dan respirasi tanaman. Pada suhu lingkungan yang lebih rendah daripada suhu dasar maka pertumbuhan tanaman berhenti ( dorman ), sedangkan apabila suhu lebih tinggi daripada suhu maksimum maka tanaman akan mati ( letal ). Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa tanaman seperti kedelai membutuhkan suhu kardinal, yaitu kisaran kesesuaian suhu minimum, optimum dan maksimum untuk pertumbuhan tanaman dan perkembangan tanaman. Kisaran toleransi terhadap suhu yang berbeda tiap kultivar menyebabkan kisaran toleransi terhadap ketinggian tempat yang berbeda-beda pula untuk setiap jenis kultivar, karena ketinggian tempat merupakan salah satu faktor pengendali iklim yang berpengaruh kuat terhadap suhu udara.
            Berdasarkan hasil penelitian Purwanti ( 2004 ) tentang “ kajian suhu ruang simpan terhadap kualitas benih kedelai kuning dan kedelai hitam ” dapat diproleh bahwa :
1.      Terdapat interaksi antara kulit benih kedelai dan suhu ruang simpan
2.      Benih kedelai hitam yang disimpan dalam kantong plastik dan kaleng pada suhu rendah dan tinggi selama 6 bulan, mampu mempertahankan daya tumbuh ( > 90% ) dan vigor serta pertumbuhan bibit yang tinggi.
3.      Benih kedelai kuning yang disimpan  pada suhu  rendah dapat mempertahankan daya tumbuh ( 80% ), vigor dan pertumbuhan yang tinggi. Penyimpanan pada suhu tinggi menyebabkan penurunan kualitas benih dipercepat mulai dua bulan disimpan (41,0%).
4.       Penyimpanan benih kedelai hitam dan kuning pada suhu  rendah mampu
       mempertahankan kualitas benih tetap tinggi selama enam bulan disimpan.
            Maka dari itu dapat kita simpulkan bahwa kedelai hitam masih dapat  mempertahankan daya tumbuh dan vigor yang tinggi walaupun di tempatkan pada suhu rendah dan tinggi. Sedangkan kedelai kuning hanya mampu mempertahankan daya tumbuh dan vigor yang tinggi pada suhu rendah saja. Hal ini disebabkan adanya perubahan kadar air benih telah naik sekitar 1 % dari kadar air awal mulai bulan keempat penyimpanan, perbedaan ini sangat berpengaruh terhadap kualitas benih.
            Menurut Kartono ( 2004 ) dalam jurnalnya menyatakan agar benih kedelai dapat disimpan dalam waktu yang lama dengan mutu dan daya kecambah yang tetap tinggi, maka diperlukan penanganan pascapanen yang baik, perawatan benih kedelai yang baik, dan ruang penyimpanan yang suhu dan kelembabannya dapat diatur. Ruangan yang baik untuk menyimpan benih kedelai adalah yang bersuhu < 20 derajad celcius dan RH < 50%.  Dalam penyimpanan benih ini juga disarankan agar menggunakan kemasan kedap udara dengan ruang suhu < 20 derajad celcius. Karena dengan hal tersebut dapat mempertahankan daya kecambah benih sampai lima tahun.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.      Suhu udara yang dikehendaki tanaman kedelai adalah berkisar 21-34 derajad celcius. Sedangkan suhu optimumnya berkisar 23-27 derajad celcius.
2.      Keadaan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan tanaman kedelai mati ( letal ) dan keadaan suhu yang terlalu rendah dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kedelai berhenti ( dorman ).
3.      Pengaturan suhu udara yang baik dapat mempertahankan daya kecambah benih kedelai selama bertahun-tahun, yaitu pada suhu 20 derajad celcius dengan menggnakan kemasan kedap udara.
4.      Terdapat interaksi antara warna kulit benih kedelai dengan suhu ruang simpan. Yaitu benih kedelai hitam lebih kuat mempertankan kualitas daya tumbuh benih dibandingkan beih kedelai putih.
SARAN
            Sebaiknya penelitian dilakukan dengan penuh kesungguhan dan lebih hati-hati agar diproleh data yang akurat.

           
           
           




hama dan penyakit pada tomat



Botani Tanaman
            Menurut Rukmana (1994) adapun sistematika dari tanaman tomat (Lycopersicum esculentum Mill.) adalah sebagai berikut :
Divisio             :           Spermatophyta
Sub Divisio     :           Angiospermae
Kelas               :           Dicotyledoneae
Ordo                :           Tubiflorae       
Famili              :           Solanaceae
Genus              :           Lycopersicum 
Spesies            :           Lycopersicum esculentum Mill.
            Tomat (Lycopersicum esculentum Mill.), tumbuhan dari keluarga Solanaceae. Tomat merupakan tanaman semusim, dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter. Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani (Anonimous, 2010b).
            Daun tomat umumnya lebar-lebar, bersirip dan berbulu, panjang daunnya berkisar antara 20 – 30 cm atau lebih, lebar sekitar 15 – 20 cm, dan biasanya tumbuh dakat ujung dahan (cabang). Tangkai daun bulat panjang sekitar 7 – 10 cm dan tebalnya antara 0,3 – 0,5 cm (Rukmana, 1994).
            Batang tomat walaupun tidak sekeras tanaman tahunan, tetapi cukup kuat. Warna batang hijau dan berbentuk persegi empat sampai bulat. Pada permukaan batangnya ditumbuhi banyak rambut halus terutama di bagian yang berwarna hijau. Di antara rambut-rambut tersebut biasanya terdapat rambut kelenjar. Pada bagian-bagian bukunya terjadi penebalan dan kadang-kadang pada buku bagian bawah terdapat akar-akar pendek. Jika dibiarkan (tidak dipangkas), tanaman tomat akan mempunyai banyak cabang yang menyebar rata (Trisnawati dan Setiawan, 1993).
            Rangkaian bunga terdiri dari 4 – 14 bunga. Rangkaian bunga terletak di antara buku, pada ruas, atau di ujung batang atau cabang. Bunga tomat merupakan buang banci (hermaphrodite) dengan garis tengah ± 2 cm. Mahkota bunga berjumlah 6, bagian pangkalnya membentuk tabung pendek sepanjang ± 1 cm, berwarna kuning. Benang sari berjumlah 6, bertangkai pendek dengan kepala sepanjang ± 5 mm, dan berwarna kuning cerah. Benang sari mengelilingi putik bunga. Kelopak bunga berjumlah 6 dengan ujung kelopak runcing, dan panjang ± 1 cm. Letak bunga menggantung (Pracaya, 1998).
            Buah tomat umumnya berbentuk bulat, bulat pipih, atau oval, berkulit tipis, halus, dan bila sudah matang berwarna merah muda, merah, atau kuning. Berat buah sangat bervariasi, antara 50 - 250 g per buah. Setiap 100 g buah tomat mengandung vitamin A1500 SI, vitamin C 40 mg, fosfor 27 mg, dan kalori atau energi 20 kal (Anonimous, 2010d).
            Biji tomat berukuran kecil, dengan lebar 2 mm – 4 mm dan panjang 3 mm – 5 mm. Biji berbentuk seperti ginjal, ringan, berbulu, dan berwarna cokelat muda. Setiap gram berisi antara 200 – 500 biji, tergantung varietasnya (Pracaya, 1998).
Syarat Tumbuh
Iklim
Tanaman tomat dapat tumbuh dengan temperatur siang hari 24°C dan malam hari antara 15°C - 20°C. Tanaman ini memerlukan sinar matahari minimal 8 jam per hari dengan curah hujan berkisar antara 750 - 1250 mm per tahun atau 100 - 200 mm per bulan (Anonimous, 2010d).
Tanaman tomat memerlukan sinar matahari yang cukup. Kekurangan sinar matahari menyebabkan tanaman tomat mudah terserang penyakit, baik parasit maupun non parasit. Intensitas matahari sangat penting dalam pemebntukan vitamin C dan karoten dalam buah tomat. Sinar matahari berintensitas tinggi akan menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih tinggi. Suhu udara rata-rata harian yang optimal untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah suhu siang hari 18-29 derajat C dan pada malam hari 10-20 oC (Pracaya, 1998).
Tanah
Tomat dapat hidup di dataran rendah sampai dataran tinggi, asal tanahnya tidak becek atau tergenang.  Sifat tanah yang cocok untuk tomat adalah pH 5,5 – 6,5. Bila target penanaman tomat adalah kegenjahannya, maka tomat cocok ditanam pada tanah lempung berpasir yang baik drainasenya. Namun, bila yang ditargetkan adalah jumlah total produksi yang tinggi, maka tanah yang cocok adalah tanah lempung liat dan lempung berdebu (Trisnawati dan Setiawan, 1993).

Biologi Penyakit Buah Tomat (Phytophthora sp)
Phytophthora berasal dari bahasa Yunani, phyto yang berarti tanaman dan phthora yang artinya merusak, jamur ini disebut juga jamur air karena selain di tanah dan daerah daun sebagian besar siklus hidupnya dapat terjadi di air. Phytophthora yang ditumbuhkan pada media biakan atau jaringan tanaman dalam keadaan lembab, umumnya tidak berpigmen, dan apabila dilihat di bawah mikroskop, miseliumnya berwarna hyalin. Miselium bercabang dan memiliki struktur seperti tabung. Pertumbuhan umumnya terjadi pada ujung hifa (Anonimous, 2009).
Penyebab penyakit busuk buah adalah cendawan Phytophthora sp. yang sudah tersebar ke seluruh dunia, terutama daerah yang banyak turun hujan. Kerana penyakit ini berkembang pesat bila banyak hujan dan kelembapan udara tinggi. Patogen masih dapat bertahan hidup pada sisa tanaman yang sakit. Penyakit dapat menyerang seluruh tanaman tomat (Pracaya, 1998).
Gambar 1. Phytophthora sp.
Diakses pada tanggal 11 April 2010
Patogen Phytophthora sp. merupakan patogen tular tanah yang dapat berkembang dengan cepat pada kisaran suhu 20 - 30oC. Patogen ini menyebar dengan cepat dengan bantuan air permukaan. Penyakit akan semakin parah jika ditanam terus menerus (dua tahun berturut-turut) pada lahan yang sama. Pengendalian dengan menggunakan fungisida maupun fumigan tidak mampu menurunkan keparahan. Penggunaan varietas tahan sangat potensial, murah, dan efiesien untuk menanggulangi serangan patogen. Penggunaan varietas tahan dalam budi daya tanaman merupakan salah satu bagian dari unsur pengendalian terpadu yang relatif murah, aman, dan tidak mencemari lingkungan. Oleh karena itu diperlukan varietas tomat yang tahan terhadap penyakit utama dalam mengembangkan tanaman tomat (Anonimous, 2009).
Gejala Serangan Penyakit Busuk Buah Tomat (Phytophthora sp)
Gejala bercak pada buah yang terserang nampak berwarna hijau kelabu kebasahan, meluas menjadi bercak yang bentuk dan besarnya tidak tertentu. Bercak dapat membesar sehingga menutupi seluruh buah. Pada buah muda bercak berwarna coklat tua, agak keras dan berkerut. Bercak mempunyai batas yang cukup jelas dan tetap hijau pada bagian yang sehat matang. Gejala busuk lunak oleh bakteri biasanya mengikuti gejala hawar daun sehingga menyebabkan timbulnya bau busuk (Semangun, 1989).
Gambar 2. Busuk Buah Tomat
Diakses pada tanggal 11 April 2010
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyakit
            Penyakit busuk buah tomat dapat berkembang dengan pesat bila dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :
·         Penyakit ini berkembang baik pada musim hujan.
·         Kondisi lingkungan lembab (rH di atas 90%) dan suhu sekitar 20°C.
·         Tanaman inang terpenting selain tomat adalh kentang
(Rukmana, 1994).
Pengendalian penyakit
a. Kultur teknis
- Penggunaan benih sehat,
- Perlakuan desinfeksi permukaan benih dengan air hangat atau larutan fungisida
efektif, terdaftar dan diizinkan oleh Menteri Pertanian (seperti fungisida yang
berbahan aktif propamokarb) 1 ml/l selama ± 1 jam.
b. Pengendalian fisik / mekanis
- Apabila ditemukan bagian tanaman yang memperlihatkan gejala busuk daun
segera dipetik, dikumpulkan dan dimusnahkan.
c. Pengendalian kimiawi
- Apabila terdapat 1 bercak aktif / 10 tanaman, dan bila curah hujan tinggi serta
cuaca berkabut, dapat diaplikasikan fungisida efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian. Dapat diberantas dengan bubur bordeux (Anonimous, 2010a).

herbisida




 
TINJAUAN PUSTAKA

            Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan "asing" ini ( Anonimos, 2010).
            Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan – jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika di gunakan untuk memberantas gulma yang masih muda dan berwarna hijau, serta gulma yang memiliki system perakaran sempit. Herbisida kontak mematikan bagian gulma yang terkena pertumbuhan gulma kembali terjadi sangat cepat ( Triharso, 1994 ).
            Herbisida Sistemik dengan bahan adiktifnya diserap dan di traslokasi ke seluruh bagian atau jaringan gulma reaksi kematian gulma terjadi sangat lambat ke sana proses kerja bahan aktif herbisida sistemik tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang terkena, namun berkerja dengan cara mengganggu proses fisiologi jaringan tersebut ( Fryer, 1977 ).
            Berdasarkan faktor internalnya, waktu aplikasi herbisida yang paling tepat adalah pada saat gulma masih muda. Faktor eksternal adalah faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi aplikas herbisida, misalnya curah hujan, angin, sinar matahari dan lain-lain (Sumintapura, 1980).
             Secara umum dosis herbisida yang digunakan sangat tergantung pada jenis dan kondisi areal percobaan serta jenis handsprayer (Anonimos, 2010).
            Secara umum dosis herbisida yang digunakan sangat tergantung pada jenis dan kondisi gulma sasaran, kondisi cuaca, kondisi areal serta jenis sprayer ( Sutanto, 2005 ).
            Pengendalian gulma secara kimia adalah dengan manggunakan herbisida. Herbisida adalah persenyawaan kimia yang digunakan untuk membunuh atau menekan pertumbuhan gulma. Metode kimia ini lazim digunakan pada perkebunan dewasa ini ( Nasution, 1986 ).
            Berdasarkan waktu aplikasinya herbisida dibagi menjadi 2 bagian yaitu herbisida pra tumbuh dan herbisida pasca tumbuh. Herbisida pra tumbuh adalad herbisida yang digunakan untuk membasmi gulma- gulma yang dilakukan sebelum penanaman tanaman pokok berlangsung, sedangkan herbisida pasca tumbuh adalah herbisida yang di berikan untuk membami gulma – gulma yang di lakukankan setelah penanaman tanaman pokok di lakukan ( Anonimos, 2010).
            Adapun keuntungan menggunakan herbisida untuk membasmi gulma – gulma adalah dapat menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya pengendalian gulma dapat dipilih saatnya yang disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Areal dapat di perluas. Herbisida dapat menggurangi gangguan terhadap struktur tanah, bahkan gulma yang mati berfungsi sebagai mulsa yang bermanfaat mempertahankan kelembaban tanah, menggurangi erosi, menekan pertumbuhan gulma baru ( Barus 2003 ).
            Dan kerugian menggunakan herbisida adalah herbisida yang terdapat pada tumbuhan tersebut dapat menjadi racun apabila di konsumsi dan dapat mengganggu kesehatan. Gulma yang sudah mati dapat tumbuh lagi dalam beberapa waktu kemudian ( Anonimos, 2010).
             Pengendalian gulma secara kimia adalah dengan menggunakan herbisida. Herbisida adalah persenyawaan kimia yang di gunakan untuk membunuh atau menekan pertumbuhan gulma. Metode kimia ini lazim di gunakan pada perkebunan dewasa ( Cheny, 1991 ).
            Waktu aplikasi mempunyai pengaruh dalam aplikasi herbisida. Gugus selektif dengan pengaruh residu rendah biasanya di aplikasikan sebagai herbisida pra tumbuh. Gulma yang mempunyai perakaran banyak dalam permukaan tanah aka menjadi peka gugusan herbisida pra tumbuh ( Anonimos, 2010 ).
             Pemberantasan gulma terhadap herbisida bukanlah sebuah fenomena unik, sebab perlawanan terhadap herbisida adalah masalah yang tidak terberantas pada satu katagori gulma – gulma telah terbukti secara ekologis dan beradaptasi ke agrichemicals biokimia (Prasajo, 1984).
            Ada beberapa bentuk herbisida diantaranya adlah cairan dan butiran. Bentuk butiran dapat di gunakan pada padi sawah, swah harusdalam keadaan tergenang air setinggi 2 – 5 cm selama 4 hari, cara penggunaannya di tebar merata keseluruh perakaran sawah ( Soedjana, 1986 ).
            Herbisida harus diaplikasikan secara tepat wktu, aturan, sasaran, tepat guna. Agar herbisida tersebut dapat memproleh hasil yang maksimal. Selain itu yang mempengaruhi cara kerja herbisida adalah lingkungan, cara aplikasia dan herbisida yang digunakan, air dan curah hujan, suhu, angin, kelembaban, dan tanah ( Sutanto, 2005 ).
            Umumnya penggunaan herbisida sistemik lebih efektif daripada menggunakan herbisida kontak, karena herbisida sistemik menyerang gulma sampai pada system perakarannya, sedangkan herbisida kontak hanya menyerabg sampai daun dan batang saja sehinnga gilma yg mati dapat tumbuh kembali menggunakan rhizomanya, umbinya ( Basuki, 1965 ). 
by : sufyan atsauri tanjung
universitas sumatera utara