Selamat Datang Di Atsauri's Blog NURUL 'ILMI fakultas pertanian universitas sumatera utara

25 April 2013

herbisida




 
TINJAUAN PUSTAKA

            Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah, perolehan cahaya matahari, dan atau keluarnya substansi alelopatik, tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan "asing" ini ( Anonimos, 2010).
            Herbisida kontak adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan – jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika di gunakan untuk memberantas gulma yang masih muda dan berwarna hijau, serta gulma yang memiliki system perakaran sempit. Herbisida kontak mematikan bagian gulma yang terkena pertumbuhan gulma kembali terjadi sangat cepat ( Triharso, 1994 ).
            Herbisida Sistemik dengan bahan adiktifnya diserap dan di traslokasi ke seluruh bagian atau jaringan gulma reaksi kematian gulma terjadi sangat lambat ke sana proses kerja bahan aktif herbisida sistemik tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang terkena, namun berkerja dengan cara mengganggu proses fisiologi jaringan tersebut ( Fryer, 1977 ).
            Berdasarkan faktor internalnya, waktu aplikasi herbisida yang paling tepat adalah pada saat gulma masih muda. Faktor eksternal adalah faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi aplikas herbisida, misalnya curah hujan, angin, sinar matahari dan lain-lain (Sumintapura, 1980).
             Secara umum dosis herbisida yang digunakan sangat tergantung pada jenis dan kondisi areal percobaan serta jenis handsprayer (Anonimos, 2010).
            Secara umum dosis herbisida yang digunakan sangat tergantung pada jenis dan kondisi gulma sasaran, kondisi cuaca, kondisi areal serta jenis sprayer ( Sutanto, 2005 ).
            Pengendalian gulma secara kimia adalah dengan manggunakan herbisida. Herbisida adalah persenyawaan kimia yang digunakan untuk membunuh atau menekan pertumbuhan gulma. Metode kimia ini lazim digunakan pada perkebunan dewasa ini ( Nasution, 1986 ).
            Berdasarkan waktu aplikasinya herbisida dibagi menjadi 2 bagian yaitu herbisida pra tumbuh dan herbisida pasca tumbuh. Herbisida pra tumbuh adalad herbisida yang digunakan untuk membasmi gulma- gulma yang dilakukan sebelum penanaman tanaman pokok berlangsung, sedangkan herbisida pasca tumbuh adalah herbisida yang di berikan untuk membami gulma – gulma yang di lakukankan setelah penanaman tanaman pokok di lakukan ( Anonimos, 2010).
            Adapun keuntungan menggunakan herbisida untuk membasmi gulma – gulma adalah dapat menghemat waktu, tenaga kerja, dan biaya pengendalian gulma dapat dipilih saatnya yang disesuaikan dengan waktu yang tersedia. Areal dapat di perluas. Herbisida dapat menggurangi gangguan terhadap struktur tanah, bahkan gulma yang mati berfungsi sebagai mulsa yang bermanfaat mempertahankan kelembaban tanah, menggurangi erosi, menekan pertumbuhan gulma baru ( Barus 2003 ).
            Dan kerugian menggunakan herbisida adalah herbisida yang terdapat pada tumbuhan tersebut dapat menjadi racun apabila di konsumsi dan dapat mengganggu kesehatan. Gulma yang sudah mati dapat tumbuh lagi dalam beberapa waktu kemudian ( Anonimos, 2010).
             Pengendalian gulma secara kimia adalah dengan menggunakan herbisida. Herbisida adalah persenyawaan kimia yang di gunakan untuk membunuh atau menekan pertumbuhan gulma. Metode kimia ini lazim di gunakan pada perkebunan dewasa ( Cheny, 1991 ).
            Waktu aplikasi mempunyai pengaruh dalam aplikasi herbisida. Gugus selektif dengan pengaruh residu rendah biasanya di aplikasikan sebagai herbisida pra tumbuh. Gulma yang mempunyai perakaran banyak dalam permukaan tanah aka menjadi peka gugusan herbisida pra tumbuh ( Anonimos, 2010 ).
             Pemberantasan gulma terhadap herbisida bukanlah sebuah fenomena unik, sebab perlawanan terhadap herbisida adalah masalah yang tidak terberantas pada satu katagori gulma – gulma telah terbukti secara ekologis dan beradaptasi ke agrichemicals biokimia (Prasajo, 1984).
            Ada beberapa bentuk herbisida diantaranya adlah cairan dan butiran. Bentuk butiran dapat di gunakan pada padi sawah, swah harusdalam keadaan tergenang air setinggi 2 – 5 cm selama 4 hari, cara penggunaannya di tebar merata keseluruh perakaran sawah ( Soedjana, 1986 ).
            Herbisida harus diaplikasikan secara tepat wktu, aturan, sasaran, tepat guna. Agar herbisida tersebut dapat memproleh hasil yang maksimal. Selain itu yang mempengaruhi cara kerja herbisida adalah lingkungan, cara aplikasia dan herbisida yang digunakan, air dan curah hujan, suhu, angin, kelembaban, dan tanah ( Sutanto, 2005 ).
            Umumnya penggunaan herbisida sistemik lebih efektif daripada menggunakan herbisida kontak, karena herbisida sistemik menyerang gulma sampai pada system perakarannya, sedangkan herbisida kontak hanya menyerabg sampai daun dan batang saja sehinnga gilma yg mati dapat tumbuh kembali menggunakan rhizomanya, umbinya ( Basuki, 1965 ). 
by : sufyan atsauri tanjung
universitas sumatera utara

















No comments:

Post a Comment